Sabtu, 30 Januari 2021

Pengelolaan Baitul Hikmah pada Masa Pemerintahan Khalifah Al-Makmun

 

Pengelolaan Baitul Hikmah Pada Masa Pemerintahan Khalifah Al-Makmun

 

Fitria Ulfa

 Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Fitria6611@gmail.com

 

Abstrak: Masa pemerintahan Al- Makmun merupakan periode kejayaan ilmu pengetahuan dalam periode kekuasaan Daulah Abbasiyah. Khalifah Al-Makmun merupakan seorang pemimpin yang memiliki ilmu pengetahuan luas dan mendalam sehingga mengetahui pencapaian diri dari kualitas keilmuwan Yahya bin Aktsam. Khalifah Al-Makmun memperluas Baitul Hikmah yang telah didirikan ayahnya Harun Ar-Rasyid sebagai akademi ilmu pengetahuan pertama di dunia. Lembaga ini menjadi tanda kekuatan penuh kebangkitan timur, dimana Baghdad menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam.

Kata Kunci: Baitul Hikmah, Khalifah Al-Makmun, Ilmu pengetahua

A. Pendahuluan

            Masa Abbasiyah merupakan masa keemasan ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam. Keadaan itu terjadi karena peran para khalifah dan kebijakan- kebijakan yang mereka terapkan.  Khalifah Al-Manshur, Ar-Rasyid dan Al-Makmun, mereka adalah khalifah-khalifah yang sangat peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Ar-Rasyid dan Al-Makmun adalah khalifah pertama yang membuat dan melaksanakan kebijakan tentang kewajiban talabul ilmi. Pada masa khalifah Al-Manshur (754-775) khalifah kedua dari dinasti Abbasiyah mendirikan biro penerjemahan di Baghdad. Kemudian pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid lembaga ini bernama Khizanah Al-Hikmah yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Pada tahun 815 Al-Makmun mengembangkan lembaga ini dan mengubah namanya dengan Bayt Al-Hikmah, perpustakaan ini menyerupai Universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan  ilmu pengetahuan, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting. Koleksi buku perpustakaan Baghdad berjumlah 400 hingga 500 jilid.

            Dinasti Abbasiyah pada awal kekuasaannya dipimpin oleh para khalifah-khalifah yang kuat, seperti Abu Jafar, Al-Manshur, Ar-Rasyid dan Al-Makmun mengalami kegemilangan sehingga mampu memimpin dunia selama beberapa abad. Pada saat itu peradaban islam adalah peradaban yang terdepan, Universitasnya adalah tempat berkumpul para sarjana yang datang untuk menuntut ilmu baik dari Eropa maupun dari tempat lainnya.[1] Aktifitas keilmuwan pada masa Al-Makmun mencapai masa keemasan dalam sejarh kemajuan islam, karena khalifah sendiri adalah seorang ulama besar. Majelis Al-Makmun penuh dengan para ahli hadis, ahli sastra, ahli kedokteran dan ahli filsafat. Mereka diundang oleh Al-Makmun dari segala penjuru dunia yang telah maju dan juga Al-Makmun berperan aktif dalam berdiskusi dan berdebat dengan para ahli tersebut.[2] Untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat itu, Khalifah Al-Makmun memperluas Baitul Hikmah yang telah didirikan ayahnya Harun Ar-Rasyid sebagai akademi ilmu pengetahuan pertama di dunia. Baitul Hikmah diperluas menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan dan tempat penelitian. Lembaga ini memiliki ribuan buku ilmu pengetahuan. Lembaga lain yang didirikan Al-Makmun adalah Majalis Al-Munazharah sebagai lembaga pengkajian keagamaan yang diselenggarakan di masjid-masjid, rumah-rumah dan istana khalifah. Lembaga ini tanda kekuatan penuh kebangkitan timur , dimana Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam.[3]

            Baitul Hikmah adalah salah satu dari tiga puluh enam perpustakaan di Baghdad[4] sebuah kombinasi yang baik dari sebuah perpustakaan, akademi dan sarana penerjemahan yang didirikan oleh khalifah Abbasiyah, Al-Makmun sekitar tahun 318 H, diantara perpustakaan yang lainnya adalah perpustakaan Umar Al-Waqidi (736 H), perpustakaan Sekolah Tinggi Nidzamiyah (1064 H), perpustakaan Sekolah Mustansiriyah (1233 H), perpustakaan Al-Baiqani dan masih banyak perpustakaan lainnya. Perpustakaan Abbasiyah di Baghdad berdiri dalam kaitannya dengan akademi Bayt Al-Hikmah “gedung hikmah” atau Dar Al-Ilmi “tempat pendidikan” yag didirikan oleh khalifah Al-Makmun (813-833 H) atau mungkin sebelum ayahnya Harun Ar-Rasyid (789- 809 H). tugas pertama akademi itu adalah untuk menyimpan terjemahan-terjemahan buku “ilmu-ilmu kuno” yaitu filsafat hellenistik dan ilmu alam.[5]

            Berdasarkan uraian diatas, maka penulis ingin mengetahui bagaimana cara pengelolaan Baitul Hikmah dan apa saja upaya dalam pengelolaan baitul hikmah yang ada pada masa pemerintahan  khalifah Al-Makmun. Oleh karena itu, kajian ini mengambil judul: Pengelolaan Baitul Hikmah Pada Masa Pemerintahanan khalifah Al-Makmun

B. Metode Penelitian

     Penelitian ini termasuk pada jenis penelitian kualitatif dengan analisis data menggunakan metode analisis deskriptif. Penelitian Deskriptif adalah penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan dan  menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan, presepsi orang secara individual maupun kelompok.[6] Metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah dengan studi kepustakaan (library research) yaitu dengan cara membaca dan memahami tulisan yang terkait dengan judul penelitian ini. Tekhnik pengumpulan data juga menggunakan tekhnik dokumentasi yaitu tekhnik pengumpulan data dengan cara melihat catatan peristiwa yang sudah berlalu dan dapat berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan ( life histories ), cerita biografi dan sebagainya.[7]

            Salah satu jenis penelitian bila dilihat dari tempat pengambilan data adalah penelitian kepustakaan ( library research). Disebut penelitian kepustakaan karena data-data atau bahan-bahan yang diperlukan dalam menyelesaikan penelitian tersebut berasal dari perpustakaan baik berupa buku, enksklopedi, kamus, jurnal, dokumen, majalah dan lain sebagainya. Dalam sumber bacaan, seorang peneliti harus selektif sebab tidak semua dijadikan sebagai sumber data. Menurut Supadi Suryabrata paling tidak ada dua kriteria yang biasa digunakan untuk memilih sumber bacaan yaitu (1) prinsip kemutakhiran (recency) dan (2) prinsip relevansi (relevance) kecuali untuk penelitian historis, perlu dihindarkan penggunaan sumber bacaan yang sudah lama dan dipilih sumber yang lebih mutakhir. Sumber yang telah lama mungkin memuat teori-teori atau konsep-konsep yang sudah tidak berlaku lagi, karena kebenarannya telah dibantah oleh teori yang lebih baru atau hasil penelitian yang lebih kemudian.[8]

C. Pembahasan

1.  Khalifah Al-Makmun

Nama lengkapnya adalah Al- Makmun bin Harun Ar-Rasyid bin Muhammad Al- Mahdi. Ibunya adalah seorang ummu walad bernama Murajil. Dia lahir tahun 170 H, tepat pada hari pengangkatan ayahnya sebagai khalifah. Ayahnya mengangkatnya sebagai putra mahkota saat itu baru berusia 13 tahun setelah saudaranya Muhammad Al- Amin. Pengasuhannya diserahkan kepada Ja’far bin Yahya. Harun Ar-Rasyid mengangkatnya sebagai walikota Khurasan dan sekitarnya hingga Hamadzan dan memberinya keistimewaan sebagai daerah otonom.

Abdullah Al-Makmun dibaiat sebagai khalifah umat islam pada tanggal 25 Muharram tahun 198 H bertepatan dengan 5 September tahun 813 H, pemerintahannya berlangsung selama beberapa tahun hingga ia wafat dalam perang di Tharasus tanggal 19 Rajab tahun 218 H bertepatan dengan 10 Agustus tahun 832 M. Masa kekhalifahannya berlangsung selama 20 tahun 5 bulan 3 hari. Ia menetap di Khurasan sejak masa pengangkatannya sebagai khalifah hingga pertengahan bulan Safar tahun 204 H, yang merupakan masa kedatangannya ke Baghdad dan sisanya dihabiskan di Baghdad yang merupakan ibukota kekhalifahan Bani Abbasiyah. [9]

Khalifah Al-Makmun memulai di Baghdad yang merupakan ibukota kekhalifahan Bani Abbasiyah dan kediaman nenek moyangnya. Sejak saat itu, dimulailah pemerintahannya yang sesungguhnya dan tampaklah keistimewaan-keistimewaan etikanya yang terhormat dan tidak dapat dibandingkan dengan seorang pun dari anggota keluarganya. Al-Makmun menerapkan kebijakan yang ramah dan lembut yang tidak dihinggapi kelemahan, kuat dan tidak diikuti kekejaman, hingga Baghdad bersiap-siap menggapai kemajuannya kembali yang pernah diraihnya pada masa pemerintahan ayahnya. Gerakan ilmiah pun semakin besar pada masanya karena kecenderungan Abdullah Al- Makmun yang luar biasa pada penguatan gerakan tersebut.

Khalifah Al-Makmun merupakan seorang pemimpin yang memiliki ilmu pengetahuan luas dan mendalam sehingga mengetahui pencapaian diri dari kualitas keilmuwan Yahya bin Aktsam, dengan segenap kecerdasan dan keterampilannya. Dengan kepribadiannya yang demikian itu, maka ia pun menjadi teladan dan percontohan bagi hakim-hakim agung yang lain dan banyak menimba ilmu darinya. Ia juga pandai mengorganisasi anggota kerajaan anggota kerajaan dan pemerintahannya. Karena itu, kementrian tidak mengambil langkah dan kebijakan apapun kecuali setelah diperiksa oleh Yahya bin Aktsam.[10]

Masa pemerintahan Al- Makmun merupakan periode kejayaan ilmu pengetahuan dalam periode kekuasaan Daulah Abbasiyah. Hal ini dikarenakan dua faktor: (1) khalifah Al-Makmun adalah orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk ilmu pengetahuan dan mendalaminya ketika berada di Marwu. Ia banyak berinteraksi dengan para ulama, menimba ilmu pengetahuan agama dari mereka seperti hadist, fiqih, bahasa arab dan tafsir. Karena itu ia merupakan sosok pemimpin yang mencintai ilmu pengetahuan dan bersemangat untuk mengembangkannya. (2) bangsa dan umat islam ketika itu sangat merindukan ilmu pengetahuan dan berpetualang untuk mencarinya, dan banyaknya ulama di setiap kota-kota umat islam. Pandangan kepala Negara bersinergi dengan kesiapan rakyatnya, sehingga sangat potensial bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuannya serta meninggikan eksitensi Baghdad.

Khalifah Al-Makmun, pengganti Ar-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta pada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penterjemahan buku-buku Yunani, Al-Makmun menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Al- Makmun banyak mendirikan sekolah dan salah satu karya yang terpenting dalam pembangunan Bait Al-Hikmah yang digunakan sebagai pusat penerjemahan dan juga berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan  yang besar. Maka pada Al-Makmun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[11] Al-Makmun adalah seorang ahli politik yang pandai sekali mengatur negeri. Dan dia juga seorang yang alim dan filosof besar yang banyak membaca karangan-karangan ahli fikir Yunani kuno. Perhatiannya yang besar terhadap ilmu dunia dan akhirat, mengembalikan Baghdad ke zaman ayahnya dahulu, yaitu Baghdad menjadi pusat ahli lmu pengetahuan yang datang dari berbagai negeri dan khalifah sendirilah yang menjadi kepalanya. Kitab-kitab bahasa asing, persia, Hindustan, Siryam, Yunani, Romawi dan latin yang berisi ilmu pengetahuan yang berfaedah disuruh menerjemahkan dan diberikan imbalan yang besar kepada para penerjemah itu.[12]

2. Pengelolaan Baitul Hikmah pada Masa Pemerintahan Khalifah Al-Makmun

Baitul hikmah merupakan perpustakaan besar islam yang didirikan pada awal abad IX M oleh khalifah Harun Ar-Rasyid  yang terletak di jantung kota Baghdad. Usaha Ar-Rasyid kemudian diteruskan oleh anaknya Al-Makmun, perpustakaan itu dikenal dengan sebutan  “ Darul Ilmi” atau “ Baitul Hikmah” yaitu suatu lembaga yang menyerupai universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan ilmu, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting.  Baitul hikmah merupakan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Institusi ini merupakan kelanjutan dari institusi serupa di masa imperium Sasania Persia yang bernama Jundishapur Academy. Namun, berbeda dari institusi pada masa Sasania yang hanya menyimpan puisi-puisi dan cerita-cerita untuk raja. Pada masa Abbasiyah, institusi ini diperluaskan penggunaannya. Pada masa Harun Ar-Rasyid, institusi ini bernama Khizanah Al-Hikmah ( Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Sejak 815 M, Al-Makmun mengembangkan lembaga ini dan diubah namanya menjadi Baitul Hikmah. Pada masa ini Baitul Hikmah dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku yang didapat dari Persia, Bizantium, dan bahkan Etiopia dan India. Dia institusi ini Al-Makmun mempekerjakan Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi yang ahli di bidang aljabar dan astronomi. Orang-orang Persia juga masih dipekerjakan di Baitul Hikmah ini. Direktur perpustakaan Baitul Hikmah sendiri adalah seorang nasionalis  Persia dan ahli Pahlewi, Sahl Ibnu Harun. Dibawah kekuasaan Al-Makmun, Baitul Hikmah tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan tetapi juga sebagi pusat kegiatan studi dan riset astronomi dan matematika. [13]

Baitul hikmah akhirnya menjadi tempat berkumpulnya para peneliti, ilmuwan serta pencari ilmu dari berbagai negara. Ibnu Sina, Ibnu Nadim, Abu Yusuf Al-Baladzari dan lain-lain adalah ilmuwan- ilmuwan besar yang meramaikan Baitul Hikmah. Bahkan Baitul Hikmah kemudian menjadi tempat berkumpulnya bermacam-macam profesi dari mulai ilmuwan, tukang cetak, sampai tukang jilid berkumpul disana. Tentu saja aktifitas tersebuat akan menciptakan sebuah industri. Bahkan dari sinilah, umat islam menjadi pencetus industri kertas dan percetakan. Baitul Hikmah telah mendatangkan efek yang penting bagi kehidupan intelektual waktu itu serta menjadi referensi umum, Baitul Hikmah benar-benar menjadi tempat ilmu pengetahuan yang sangat berharga.[14]

Pengelolaan Baitul Hikmah meliputi:

1.      Gedung Bangunan Baitul Hikmah

            Pembangunan gedung khusus yang menjadi cikal bakal Baitul hikmah dibangun oleh Al-Makmun (815-833 M) Baitul Hikmah adalah bangunan yang terdiri dari berbagai ruangan. Setiap ruangan terdiri dari tempat buku (khazanah) yang diberi nama sesuai nama pendirinya, seperti khazanah Ar-Rasyid dan khazanah Al-Makmun. Bangunan yang menyatu dengan istana khalifah itupun memiliki berbagai divisi. Ada divisi untuk menyimpan buku, menerjemah, mencetak, menulis, menjilid dan meneliti. Perpustakaan besar ini di desain khusus, didalamnya juga terdapat sebuah ruang baca yang sangat nyaman,dan sebuah ruang bawah tanah sebagai tempat tinggal dan ruang belajar bagi orang-orang yang menonjol dalam ilmu pengetahuan dan kesusastraan. Gedung perpustakaan Baitul Hikmah pada masanya diperindah dengan karpet sedang seluruh pintu dan koridornya diberi gorden[15] perpustakaan ini juga dilengkapi dengan ruang tersendiri untuk para penyalin, penjilid dan pustakawan.

2.      Staf perpustakaan

            Pada masa khalifah Al-Makmun, ada tiga ilmuwan yang tercatat sebagai pustakawan di Baitul Hikmah. Tanggung jawab mereka adalah memimpin keseluruhan lembaga Baitul Hikmah yang tidak hanya sebatas perpustakaan saja. Dalam satu masa Baitul Hikmah mempekerjakan lebih dari satu pustakawan yang mempunyai kedudukan sejajar. Diantara pustakawan itu adalah Salma, Sahl ibnu Harun, dan Hasan ibn Marar Al-dzabi. Perpustakawan Baitul Hikmah mempekerjakan orang islam dan non-islam sebagai staf perpustakaan. Mereka adalah Qusta ibnu Luqa, Yahya ibnu Adi

(dokter berkebangsaan India) juga Musa Al-Khawarizmi yang merupakan matematikawan terkenal dan penemu aljabar serta cendekiawan muslim terkemuka Al-Kindi juga pernah bekerja disana.[16] Selain ilmuwan dan      pustakawan, Baitul Hikmah juga mempekerjakan para penyalin dan penjilid buku. Penjilid paling terkenal dari Baitul Hikmah adalah Ibnu Abi Al-Harris yang bekerja pada masa pemerintahan Al-Makmun. Sedangkan penyalin terkenal adalah Abu Sahlu Al-Fadhlu ibnu Nubak dan ‘Allan Al-Syu’ubi. Pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid, seorang penyalin buku yang tidak memberikan tambahan sesuatu, tulisan atau kreasi yang baru atau yang hanya bertugas sebagai penyalin buku saja dapat dibayar dengan imbalan 2000 dirham ( sekitar Rp. 134.000.000,00) setiap bulannya.

3.      Metode Pendidikan

            Metode pendidikan yang digunakan dalam pendidikan di Baitul Hikmah dibuat dalam dua aturan, yaitu metode muhadharah (ceramah), juga metode dialog dan wacana debat. Guru-guru yang mengisi ceramah-ceramah perkuliahan berada ditempat yang besar, kemudian guru itu naik ditempat yang tinggi dan murid-muridnya berkumpul menjadi satu. Guru menerangkan kepada murid-murid materi yang diuraikan dalam muhadharah, lalu mereka berdialog sesuai dengan materi bidangnya, ketika itu, ustad atau syeikh menjadi rujukan akhir dari materi. Selanjutnya murid-murid berpindah dari satu halaqah ke halaqah lain dan mempelajari berbagai cabang ilmu dalam tiap-tiap halaqah tersebut. Pendidikan di Baitul Hikmah meliputi cabang-cabang ilmu seperti ilmu filsafat, falak, kedokteran, matematika juga berbagai macam bahasa seperti Yunani, Persia dan India disamping bahasa arab. Setelah lulus dari Baitul Hikmah, mereka diberi ijazaholeh para guru. Ijazah itu sebagai bukti bahwa mereka telah mendalami ilmu tersebut dan bahkan memperoleh izin untuk mengajar. Ijazah juga diberikan bagi mereka yang mendapat peringkat istimewa dalam pelajarannya. Ijazah itu hanya berhak diberikan dan ditulis oleh guru yang bersangkutan. Dalam ijazah tersebut terdapat nama murid, syaikhnya, mazhab fikihnya, serta tanggal dikeluarkannya ijazah tersebut.[17] 

4.      Biro Penerjemahan

            Era penerjemahan oleh dinasti Abbasiyah dimulai sejak 750 M dan terrus berlangsung sepanjang abad kesembilan dan sebagian besar abad kesepuluh. Dalam hal inilah Baitul Hikmah menunjukkan fungsinya yang paling utama selain sebagai perpustakaan. Aktifitas penerjemahan di Baitul Hikmah mendapat dukungan penuh dari khalifah Abbasiyah antara lain dengan memberikan imbalan atau gaji sangat besar bagi para penerjemahyang bekerja di lembaga tersebut. Al-Makmun menyediakan biaya dan dorongan yang kuat untuk mencapai kemajuan besar di bidang ilmu. Salah satunya adalah gerakan penerjemahan karya-karya kuno dari Yunani dan Suriah ke dalam bahasa arab, seperti ilmu kedokteran, astronomi, matematika dan filsafat alam secara umum. Ahli-ahli penerjemah yang diberi tugas oleh Al-Makmun diberi imbalan yang layak. Para penerjemah lain diantara lain Yahya bin Abi Manshur, Qusta bin Luqa, Sabian bin Sabit bin Qura,dan Hunain bin Ishaq  yyang diberi gelar Abu Zaid Al- Ibadi (194-263 H/ 810-887 H) Hunain bin Ishaq adalah seorang ilmuwan nasrani yang mendapat kehormatan dari Al-Makmun untuk menterjemahkan buku-buku dari Plato dan Aristoteles. Al-Makmun juga pernah mengirim utusan ke raja Roma, Leo Armenia untuk mendapatkan karya-karya ilmiah Yunani kuno yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Penerjemahan pertama dimulai dari buku berbahasa Suriah, yaitu buku-buku Yunani yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Suriah. Setelah itu baru penerjemahan karya Yunani ke dalam Bahasa Arab, terutama dalam bidang ilmu kedokteran dan astronomi yang diperlukan untuk menentukan arah kiblat bagi umat islam. Gerakan penerjemahan ini kurang lebih berlangsung selama 100 tahun. Buku proyek utamadan istimewa pada proyek utama pada proyek penerjemahan yang dilakukan di Baitul Hikmah adalah tentang buku politik. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Hunain bin Ishaq berhasil menerjemahkan buku-buku tersebut menjadi sebuah kitab dalam bahasa arab dengan judul Assiyasah.[18]

5.      Koleksi

            Koleksi buku perpustakaan berjumlah 400 hingga 500 ribu jilid dengan ribuan judul ilmu pengetahuan. Pada awal berdirinya perpustakaan ini mengoleksi ilmu-ilmu kuno yaitu filsafat hellenistik dan ilmu alam. Selain karya-karya asing, buku karya ilmuwan muslim sendiri jga ada diperpustakaan ini. Cikal bakal perpustakaan Baghdad adalah Al-Manshur (754-775 M) ia memulai kegiatan ilmu ini dengan memerintahkan penerjemahan buku-buku asing. Buku-buku diperoleh melalui penerjemahan dan beberapa tambahan diberikan sebagai hadiah oleh khalifah. Koleksi buku yang ditulis karena permintaan dan  juga bahwa dalam pentransimisian naskah dalam setiap salinan dianggap sebagai suatu edisi baru yang terpisah dari buku tersebut. Dalam bukunya Bahya Mustafa’ulyan juga mengatakan bahwa koleksi buku yang terdapat pada perpustakaan Baitul Hikmah bermacam-macam terdiri dari koleksi buku Turos (kitab lama), sejarah, terjemahan buku-buku ilmiah, falaq, kimia, kedokteran, matematika, filsafat dan sastra.[19]

D. Penutup

            Khalifah Al-Makmun, pengganti Ar-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta pada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penterjemahan buku-buku Yunani, Al-Makmun menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Al- Makmun banyak mendirikan sekolah dan salah satu karya yang terpenting dalam pembangunan Bait Al-Hikmah.  Baitul hikmah merupakan perpustakaan besar islam yang didirikan pada awal abad IX M oleh khalifah Harun Ar-Rasyid  yang terletak di jantung kota Baghdad. Usaha Ar-Rasyid kemudian diteruskan oleh anaknya Al-Makmun, perpustakaan itu dikenal dengan sebutan  “Darul Ilmi” atau “ Baitul Hikmah” yaitu suatu lembaga yang menyerupai universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan ilmu, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting.  Baitul hikmah merupakan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Adapun pengelolaan Baitul Hikmah itu meliputi gedung bangunan Baitul Hikmah, staf perpustakaan, metode pendidikan, biro penerjemah dan juga koleksi-koleksi buku yang ada di Baitul Hikmah.

Daftar Pustaka

Danandjaja, Folkar Indonesia: Ilmu Gosip, dongeng dan lain-lain,  ( Jakarta: Grafiti pers, 1984)

Ali Sodiqin, Dudung Abdurrahman,dkk, Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik hingga Modern, Yogyakarta: LESFI, 2003.

Hamka, Sejarah Umat Islam II, ( Jakarta: Bulan Bintang)

Hepi Andi Basthoni, Sejarah Para Khalifah, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008)

Johanes Pederson, Fajar Intelektualisme: Buku dan Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab (Bandung: Mizan, 1996)

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992)

Nining Sudiar, Pengelolaan Perpustakaan Baitul Hikmah, Volume 11, No. 1 Agustus 2014, ( Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru)

Nursapia Harahap, Penelitian kepustakaan,  Jurnal Iqra’ volume 08 No. 01 Mei 2014, ( IAIN-SU Medan )

Ranup Selaseh. Sejarah Baitul Hikmah- Bait Al-Hikmah. Dalam http://ranup-selaseh.blogspot.com/2013/07/sejarah -baitul-hikmah-bait-al-hikma.html, di akses 17 Mei 2014 pukul: 12:18 wib

Risa Rizania, Bait Al-Hikmah pada masa Dinasti Abbasiyah, (Universitas Indonesia: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, 2012)

Syaikh Muhammad Al- Khudhari, Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2016

Sukmadinata, Metode penelitian Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013)

W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1990)

Yusuf Al-Qardlawi, Distorsi Sejarah Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005



                [1] Yusuf Al-Qardlawi, Distorsi Sejarah Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), hal. 104

                [2] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), hal. 51

                [3] Hepi Andi Basthoni, Sejarah Para Khalifah, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008), hal. 97

                [4] Baitul hikmah didirikan pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid yaitu khalifah kelima Dinasti Abbasiyah yang kemudian disempurnakan oleh putranya khalifah Al-Makmun pada abad ke empat. Baitul Hikmah berfungsi sebagai pusat perpustakaan sekaligus observatory, disitulah para ilmuwan muslim sering berkumpul untuk melakukan kajian-kajian ilmiah. Khalifah Ar-Rasyid yang kemudian diikuti Al-Makmun secara aktif selalu ikut dalam pertemuan-pertemuan itu. Ranup Selaseh. Sejarah Baitul Hikmah- Bait Al-Hikmah. Dalam http://ranup-selaseh.blogspot.com/2013/07/sejarah -baitul-hikmah-bait-al-hikma.html, di akses 17 Mei 2014 pukul: 12:18 wib

                [5] Johanes Pederson, Fajar Intelektualisme: Buku dan Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab (Bandung: Mizan, 1996) hal. 50

                [6] Sukmadinata, Metode penelitian Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 51

                [7] Danandjaja, Folkar Indonesia: Ilmu Gosip, dongeng dan lain-lain,  ( Jakarta: Grafiti pers, 1984) hal. 28

                [8] Nursapia Harahap, Penelitian kepustakaan,  Jurnal Iqra’ volume 08 No. 01 Mei 2014, ( IAIN-SU Medan ) hal. 69

                [9] Syaikh Muhammad Al- Khudhari, Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2016, hal. 313

[10]Ibid,  hal. 314

 

                [11] W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, ( Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1990) hal. 49

                [12] Hamka, Sejarah Umat Islam II, ( Jakarta: Bulan Bintang) hal. 110

                [13] Ali Sodiqin, Dudung Abdurrahman,dkk, Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik hingga Modern, Yogyakarta: LESFI, 2003, Hal. 105

                [14] Nining Sudiar, Pengelolaan Perpustakaan Baitul Hikmah, Volume 11, No. 1 Agustus 2014, ( Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru) hal. 26

                [15] Ibid, ihal. 27

                [16] Risa Rizania, Bait Al-Hikmah pada masa Dinasti Abbasiyah, (Universitas Indonesia: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, 2012), hal. 101.

                [17] Ibid, hal. 103

                [18] Hepi Andi Basthoni, Op.cit, hal. 98

                [19] Nining Sudiar, Op.cit, hal. 29

Pengelolaan Baitul Hikmah pada Masa Pemerintahan Khalifah Al- Makmun

 

Pengelolaan Baitul Hikmah Pada Masa Pemerintahan Khalifah Al-Makmun

 

Fitria Ulfa

 Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Fitria6611@gmail.com

 

Abstrak: Masa pemerintahan Al- Makmun merupakan periode kejayaan ilmu pengetahuan dalam periode kekuasaan Daulah Abbasiyah. Khalifah Al-Makmun merupakan seorang pemimpin yang memiliki ilmu pengetahuan luas dan mendalam sehingga mengetahui pencapaian diri dari kualitas keilmuwan Yahya bin Aktsam. Khalifah Al-Makmun memperluas Baitul Hikmah yang telah didirikan ayahnya Harun Ar-Rasyid sebagai akademi ilmu pengetahuan pertama di dunia. Lembaga ini menjadi tanda kekuatan penuh kebangkitan timur, dimana Baghdad menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam.

Kata Kunci: Baitul Hikmah, Khalifah Al-Makmun, Ilmu pengetahuan

 

A. Pendahuluan

            Masa Abbasiyah merupakan masa keemasan ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam. Keadaan itu terjadi karena peran para khalifah dan kebijakan- kebijakan yang mereka terapkan.  Khalifah Al-Manshur, Ar-Rasyid dan Al-Makmun, mereka adalah khalifah-khalifah yang sangat peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Ar-Rasyid dan Al-Makmun adalah khalifah pertama yang membuat dan melaksanakan kebijakan tentang kewajiban talabul ilmi. Pada masa khalifah Al-Manshur (754-775) khalifah kedua dari dinasti Abbasiyah mendirikan biro penerjemahan di Baghdad. Kemudian pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid lembaga ini bernama Khizanah Al-Hikmah yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Pada tahun 815 Al-Makmun mengembangkan lembaga ini dan mengubah namanya dengan Bayt Al-Hikmah, perpustakaan ini menyerupai Universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan  ilmu pengetahuan, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting. Koleksi buku perpustakaan Baghdad berjumlah 400 hingga 500 jilid.

            Dinasti Abbasiyah pada awal kekuasaannya dipimpin oleh para khalifah-khalifah yang kuat, seperti Abu Jafar, Al-Manshur, Ar-Rasyid dan Al-Makmun mengalami kegemilangan sehingga mampu memimpin dunia selama beberapa abad. Pada saat itu peradaban islam adalah peradaban yang terdepan, Universitasnya adalah tempat berkumpul para sarjana yang datang untuk menuntut ilmu baik dari Eropa maupun dari tempat lainnya.[1] Aktifitas keilmuwan pada masa Al-Makmun mencapai masa keemasan dalam sejarh kemajuan islam, karena khalifah sendiri adalah seorang ulama besar. Majelis Al-Makmun penuh dengan para ahli hadis, ahli sastra, ahli kedokteran dan ahli filsafat. Mereka diundang oleh Al-Makmun dari segala penjuru dunia yang telah maju dan juga Al-Makmun berperan aktif dalam berdiskusi dan berdebat dengan para ahli tersebut.[2] Untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat itu, Khalifah Al-Makmun memperluas Baitul Hikmah yang telah didirikan ayahnya Harun Ar-Rasyid sebagai akademi ilmu pengetahuan pertama di dunia. Baitul Hikmah diperluas menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan dan tempat penelitian. Lembaga ini memiliki ribuan buku ilmu pengetahuan. Lembaga lain yang didirikan Al-Makmun adalah Majalis Al-Munazharah sebagai lembaga pengkajian keagamaan yang diselenggarakan di masjid-masjid, rumah-rumah dan istana khalifah. Lembaga ini tanda kekuatan penuh kebangkitan timur , dimana Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam.[3]

 

 

            Baitul Hikmah adalah salah satu dari tiga puluh enam perpustakaan di Baghdad[4] sebuah kombinasi yang baik dari sebuah perpustakaan, akademi dan sarana penerjemahan yang didirikan oleh khalifah Abbasiyah, Al-Makmun sekitar tahun 318 H, diantara perpustakaan yang lainnya adalah perpustakaan Umar Al-Waqidi (736 H), perpustakaan Sekolah Tinggi Nidzamiyah (1064 H), perpustakaan Sekolah Mustansiriyah (1233 H), perpustakaan Al-Baiqani dan masih banyak perpustakaan lainnya. Perpustakaan Abbasiyah di Baghdad berdiri dalam kaitannya dengan akademi Bayt Al-Hikmah “gedung hikmah” atau Dar Al-Ilmi “tempat pendidikan” yag didirikan oleh khalifah Al-Makmun (813-833 H) atau mungkin sebelum ayahnya Harun Ar-Rasyid (789- 809 H). tugas pertama akademi itu adalah untuk menyimpan terjemahan-terjemahan buku “ilmu-ilmu kuno” yaitu filsafat hellenistik dan ilmu alam.[5]

            Berdasarkan uraian diatas, maka penulis ingin mengetahui bagaimana cara pengelolaan Baitul Hikmah dan apa saja upaya dalam pengelolaan baitul hikmah yang ada pada masa pemerintahan  khalifah Al-Makmun. Oleh karena itu, kajian ini mengambil judul: Pengelolaan Baitul Hikmah Pada Masa Pemerintahanan khalifah Al-Makmun

 

B. Metode Penelitian

            Penelitian ini termasuk pada jenis penelitian kualitatif dengan analisis data menggunakan metode analisis deskriptif. Penelitian Deskriptif adalah penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan dan  menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan, presepsi orang secara individual maupun kelompok.[6] Metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah dengan studi kepustakaan (library research) yaitu dengan cara membaca dan memahami tulisan yang terkait dengan judul penelitian ini. Tekhnik pengumpulan data juga menggunakan tekhnik dokumentasi yaitu tekhnik pengumpulan data dengan cara melihat catatan peristiwa yang sudah berlalu dan dapat berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan ( life histories ), cerita biografi dan sebagainya.[7]

            Salah satu jenis penelitian bila dilihat dari tempat pengambilan data adalah penelitian kepustakaan ( library research). Disebut penelitian kepustakaan karena data-data atau bahan-bahan yang diperlukan dalam menyelesaikan penelitian tersebut berasal dari perpustakaan baik berupa buku, enksklopedi, kamus, jurnal, dokumen, majalah dan lain sebagainya. Dalam sumber bacaan, seorang peneliti harus selektif sebab tidak semua dijadikan sebagai sumber data. Menurut Supadi Suryabrata paling tidak ada dua kriteria yang biasa digunakan untuk memilih sumber bacaan yaitu (1) prinsip kemutakhiran (recency) dan (2) prinsip relevansi (relevance) kecuali untuk penelitian historis, perlu dihindarkan penggunaan sumber bacaan yang sudah lama dan dipilih sumber yang lebih mutakhir. Sumber yang telah lama mungkin memuat teori-teori atau konsep-konsep yang sudah tidak berlaku lagi, karena kebenarannya telah dibantah oleh teori yang lebih baru atau hasil penelitian yang lebih kemudian.[8]

 

 

 

 

 

C. Pembahasan

1. Khalifah Al-Makmun

Nama lengkapnya adalah Al- Makmun bin Harun Ar-Rasyid bin Muhammad Al- Mahdi. Ibunya adalah seorang ummu walad bernama Murajil. Dia lahir tahun 170 H, tepat pada hari pengangkatan ayahnya sebagai khalifah. Ayahnya mengangkatnya sebagai putra mahkota saat itu baru berusia 13 tahun setelah saudaranya Muhammad Al- Amin. Pengasuhannya diserahkan kepada Ja’far bin Yahya. Harun Ar-Rasyid mengangkatnya sebagai walikota Khurasan dan sekitarnya hingga Hamadzan dan memberinya keistimewaan sebagai daerah otonom.

Abdullah Al-Makmun dibaiat sebagai khalifah umat islam pada tanggal 25 Muharram tahun 198 H bertepatan dengan 5 September tahun 813 H, pemerintahannya berlangsung selama beberapa tahun hingga ia wafat dalam perang di Tharasus tanggal 19 Rajab tahun 218 H bertepatan dengan 10 Agustus tahun 832 M. Masa kekhalifahannya berlangsung selama 20 tahun 5 bulan 3 hari. Ia menetap di Khurasan sejak masa pengangkatannya sebagai khalifah hingga pertengahan bulan Safar tahun 204 H, yang merupakan masa kedatangannya ke Baghdad dan sisanya dihabiskan di Baghdad yang merupakan ibukota kekhalifahan Bani Abbasiyah. [9]

Khalifah Al-Makmun memulai di Baghdad yang merupakan ibukota kekhalifahan Bani Abbasiyah dan kediaman nenek moyangnya. Sejak saat itu, dimulailah pemerintahannya yang sesungguhnya dan tampaklah keistimewaan-keistimewaan etikanya yang terhormat dan tidak dapat dibandingkan dengan seorang pun dari anggota keluarganya. Al-Makmun menerapkan kebijakan yang ramah dan lembut yang tidak dihinggapi kelemahan, kuat dan tidak diikuti kekejaman, hingga Baghdad bersiap-siap menggapai kemajuannya kembali yang pernah diraihnya pada masa pemerintahan ayahnya. Gerakan ilmiah pun semakin besar pada masanya karena kecenderungan Abdullah Al- Makmun yang luar biasa pada penguatan gerakan tersebut.

Khalifah Al-Makmun merupakan seorang pemimpin yang memiliki ilmu pengetahuan luas dan mendalam sehingga mengetahui pencapaian diri dari kualitas keilmuwan Yahya bin Aktsam, dengan segenap kecerdasan dan keterampilannya. Dengan kepribadiannya yang demikian itu, maka ia pun menjadi teladan dan percontohan bagi hakim-hakim agung yang lain dan banyak menimba ilmu darinya. Ia juga pandai mengorganisasi anggota kerajaan anggota kerajaan dan pemerintahannya. Karena itu, kementrian tidak mengambil langkah dan kebijakan apapun kecuali setelah diperiksa oleh Yahya bin Aktsam.[10]

Masa pemerintahan Al- Makmun merupakan periode kejayaan ilmu pengetahuan dalam periode kekuasaan Daulah Abbasiyah. Hal ini dikarenakan dua faktor: (1) khalifah Al-Makmun adalah orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk ilmu pengetahuan dan mendalaminya ketika berada di Marwu. Ia banyak berinteraksi dengan para ulama, menimba ilmu pengetahuan agama dari mereka seperti hadist, fiqih, bahasa arab dan tafsir. Karena itu ia merupakan sosok pemimpin yang mencintai ilmu pengetahuan dan bersemangat untuk mengembangkannya. (2) bangsa dan umat islam ketika itu sangat merindukan ilmu pengetahuan dan berpetualang untuk mencarinya, dan banyaknya ulama di setiap kota-kota umat islam. Pandangan kepala Negara bersinergi dengan kesiapan rakyatnya, sehingga sangat potensial bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuannya serta meninggikan eksitensi Baghdad.

Khalifah Al-Makmun, pengganti Ar-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta pada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penterjemahan buku-buku Yunani, Al-Makmun menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Al- Makmun banyak mendirikan sekolah dan salah satu karya yang terpenting dalam pembangunan Bait Al-Hikmah yang digunakan sebagai pusat penerjemahan dan juga berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan  yang besar. Maka pada Al-Makmun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[11] Al-Makmun adalah seorang ahli politik yang pandai sekali mengatur negeri. Dan dia juga seorang yang alim dan filosof besar yang banyak membaca karangan-karangan ahli fikir Yunani kuno. Perhatiannya yang besar terhadap ilmu dunia dan akhirat, mengembalikan Baghdad ke zaman ayahnya dahulu, yaitu Baghdad menjadi pusat ahli lmu pengetahuan yang datang dari berbagai negeri dan khalifah sendirilah yang menjadi kepalanya. Kitab-kitab bahasa asing, persia, Hindustan, Siryam, Yunani, Romawi dan latin yang berisi ilmu pengetahuan yang berfaedah disuruh menerjemahkan dan diberikan imbalan yang besar kepada para penerjemah itu.[12]

 

2. Pengelolaan Baitul Hikmah pada Masa Pemerintahan Khalifah Al-Makmun

Baitul hikmah merupakan perpustakaan besar islam yang didirikan pada awal abad IX M oleh khalifah Harun Ar-Rasyid  yang terletak di jantung kota Baghdad. Usaha Ar-Rasyid kemudian diteruskan oleh anaknya Al-Makmun, perpustakaan itu dikenal dengan sebutan  “ Darul Ilmi” atau “ Baitul Hikmah” yaitu suatu lembaga yang menyerupai universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan ilmu, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting.  Baitul hikmah merupakan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Institusi ini merupakan kelanjutan dari institusi serupa di masa imperium Sasania Persia yang bernama Jundishapur Academy. Namun, berbeda dari institusi pada masa Sasania yang hanya menyimpan puisi-puisi dan cerita-cerita untuk raja. Pada masa Abbasiyah, institusi ini diperluaskan penggunaannya. Pada masa Harun Ar-Rasyid, institusi ini bernama Khizanah Al-Hikmah ( Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Sejak 815 M, Al-Makmun mengembangkan lembaga ini dan diubah namanya menjadi Baitul Hikmah. Pada masa ini Baitul Hikmah dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku yang didapat dari Persia, Bizantium, dan bahkan Etiopia dan India. Dia institusi ini Al-Makmun mempekerjakan Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi yang ahli di bidang aljabar dan astronomi. Orang-orang Persia juga masih dipekerjakan di Baitul Hikmah ini. Direktur perpustakaan Baitul Hikmah sendiri adalah seorang nasionalis  Persia dan ahli Pahlewi, Sahl Ibnu Harun. Dibawah kekuasaan Al-Makmun, Baitul Hikmah tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan tetapi juga sebagi pusat kegiatan studi dan riset astronomi dan matematika. [13]

Baitul hikmah akhirnya menjadi tempat berkumpulnya para peneliti, ilmuwan serta pencari ilmu dari berbagai negara. Ibnu Sina, Ibnu Nadim, Abu Yusuf Al-Baladzari dan lain-lain adalah ilmuwan- ilmuwan besar yang meramaikan Baitul Hikmah. Bahkan Baitul Hikmah kemudian menjadi tempat berkumpulnya bermacam-macam profesi dari mulai ilmuwan, tukang cetak, sampai tukang jilid berkumpul disana. Tentu saja aktifitas tersebuat akan menciptakan sebuah industri. Bahkan dari sinilah, umat islam menjadi pencetus industri kertas dan percetakan. Baitul Hikmah telah mendatangkan efek yang penting bagi kehidupan intelektual waktu itu serta menjadi referensi umum, Baitul Hikmah benar-benar menjadi tempat ilmu pengetahuan yang sangat berharga.[14]

Pengelolaan Baitul Hikmah meliputi:

1.      Gedung Bangunan Baitul Hikmah

            Pembangunan gedung khusus yang menjadi cikal bakal Baitul hikmah dibangun oleh Al-Makmun (815-833 M) Baitul Hikmah adalah bangunan yang terdiri dari berbagai ruangan. Setiap ruangan terdiri dari tempat buku (khazanah) yang diberi nama sesuai nama pendirinya, seperti khazanah Ar-Rasyid dan khazanah Al-Makmun. Bangunan yang menyatu dengan istana khalifah itupun memiliki berbagai divisi. Ada divisi untuk menyimpan buku, menerjemah, mencetak, menulis, menjilid dan meneliti. Perpustakaan besar ini di desain khusus, didalamnya juga terdapat sebuah ruang baca yang sangat nyaman,dan sebuah ruang bawah tanah sebagai tempat tinggal dan ruang belajar bagi orang-orang yang menonjol dalam ilmu pengetahuan dan kesusastraan. Gedung perpustakaan Baitul Hikmah pada masanya diperindah dengan karpet sedang seluruh pintu dan koridornya diberi gorden[15] perpustakaan ini juga dilengkapi dengan ruang tersendiri untuk para penyalin, penjilid dan pustakawan.

 

2.      Staf perpustakaan

            Pada masa khalifah Al-Makmun, ada tiga ilmuwan yang tercatat sebagai pustakawan di Baitul Hikmah. Tanggung jawab mereka adalah memimpin keseluruhan lembaga Baitul Hikmah yang tidak hanya sebatas perpustakaan saja. Dalam satu masa Baitul Hikmah mempekerjakan lebih dari satu pustakawan yang mempunyai kedudukan sejajar. Diantara pustakawan itu adalah Salma, Sahl ibnu Harun, dan Hasan ibn Marar Al-dzabi. Perpustakawan Baitul Hikmah mempekerjakan orang islam dan non-islam sebagai staf perpustakaan. Mereka adalah Qusta ibnu Luqa, Yahya ibnu Adi

(dokter berkebangsaan India) juga Musa Al-Khawarizmi yang merupakan matematikawan terkenal dan penemu aljabar serta cendekiawan muslim terkemuka Al-Kindi juga pernah bekerja disana.[16] Selain ilmuwan dan      pustakawan, Baitul Hikmah juga mempekerjakan para penyalin dan penjilid buku. Penjilid paling terkenal dari Baitul Hikmah adalah Ibnu Abi Al-Harris yang bekerja pada masa pemerintahan Al-Makmun. Sedangkan penyalin terkenal adalah Abu Sahlu Al-Fadhlu ibnu Nubak dan ‘Allan Al-Syu’ubi. Pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid, seorang penyalin buku yang tidak memberikan tambahan sesuatu, tulisan atau kreasi yang baru atau yang hanya bertugas sebagai penyalin buku saja dapat dibayar dengan imbalan 2000 dirham ( sekitar Rp. 134.000.000,00) setiap bulannya.

 

3.      Metode Pendidikan

            Metode pendidikan yang digunakan dalam pendidikan di Baitul Hikmah dibuat dalam dua aturan, yaitu metode muhadharah (ceramah), juga metode dialog dan wacana debat. Guru-guru yang mengisi ceramah-ceramah perkuliahan berada ditempat yang besar, kemudian guru itu naik ditempat yang tinggi dan murid-muridnya berkumpul menjadi satu. Guru menerangkan kepada murid-murid materi yang diuraikan dalam muhadharah, lalu mereka berdialog sesuai dengan materi bidangnya, ketika itu, ustad atau syeikh menjadi rujukan akhir dari materi. Selanjutnya murid-murid berpindah dari satu halaqah ke halaqah lain dan mempelajari berbagai cabang ilmu dalam tiap-tiap halaqah tersebut. Pendidikan di Baitul Hikmah meliputi cabang-cabang ilmu seperti ilmu filsafat, falak, kedokteran, matematika juga berbagai macam bahasa seperti Yunani, Persia dan India disamping bahasa arab. Setelah lulus dari Baitul Hikmah, mereka diberi ijazaholeh para guru. Ijazah itu sebagai bukti bahwa mereka telah mendalami ilmu tersebut dan bahkan memperoleh izin untuk mengajar. Ijazah juga diberikan bagi mereka yang mendapat peringkat istimewa dalam pelajarannya. Ijazah itu hanya berhak diberikan dan ditulis oleh guru yang bersangkutan. Dalam ijazah tersebut terdapat nama murid, syaikhnya, mazhab fikihnya, serta tanggal dikeluarkannya ijazah tersebut.[17] 

 

 

4.      Biro Penerjemahan

            Era penerjemahan oleh dinasti Abbasiyah dimulai sejak 750 M dan terrus berlangsung sepanjang abad kesembilan dan sebagian besar abad kesepuluh. Dalam hal inilah Baitul Hikmah menunjukkan fungsinya yang paling utama selain sebagai perpustakaan. Aktifitas penerjemahan di Baitul Hikmah mendapat dukungan penuh dari khalifah Abbasiyah antara lain dengan memberikan imbalan atau gaji sangat besar bagi para penerjemahyang bekerja di lembaga tersebut. Al-Makmun menyediakan biaya dan dorongan yang kuat untuk mencapai kemajuan besar di bidang ilmu. Salah satunya adalah gerakan penerjemahan karya-karya kuno dari Yunani dan Suriah ke dalam bahasa arab, seperti ilmu kedokteran, astronomi, matematika dan filsafat alam secara umum. Ahli-ahli penerjemah yang diberi tugas oleh Al-Makmun diberi imbalan yang layak. Para penerjemah lain diantara lain Yahya bin Abi Manshur, Qusta bin Luqa, Sabian bin Sabit bin Qura,dan Hunain bin Ishaq  yyang diberi gelar Abu Zaid Al- Ibadi (194-263 H/ 810-887 H) Hunain bin Ishaq adalah seorang ilmuwan nasrani yang mendapat kehormatan dari Al-Makmun untuk menterjemahkan buku-buku dari Plato dan Aristoteles. Al-Makmun juga pernah mengirim utusan ke raja Roma, Leo Armenia untuk mendapatkan karya-karya ilmiah Yunani kuno yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Penerjemahan pertama dimulai dari buku berbahasa Suriah, yaitu buku-buku Yunani yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Suriah. Setelah itu baru penerjemahan karya Yunani ke dalam Bahasa Arab, terutama dalam bidang ilmu kedokteran dan astronomi yang diperlukan untuk menentukan arah kiblat bagi umat islam. Gerakan penerjemahan ini kurang lebih berlangsung selama 100 tahun. Buku proyek utamadan istimewa pada proyek utama pada proyek penerjemahan yang dilakukan di Baitul Hikmah adalah tentang buku politik. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Hunain bin Ishaq berhasil menerjemahkan buku-buku tersebut menjadi sebuah kitab dalam bahasa arab dengan judul Assiyasah.[18]

 

5.      Koleksi

            Koleksi buku perpustakaan berjumlah 400 hingga 500 ribu jilid dengan ribuan judul ilmu pengetahuan. Pada awal berdirinya perpustakaan ini mengoleksi ilmu-ilmu kuno yaitu filsafat hellenistik dan ilmu alam. Selain karya-karya asing, buku karya ilmuwan muslim sendiri jga ada diperpustakaan ini. Cikal bakal perpustakaan Baghdad adalah Al-Manshur (754-775 M) ia memulai kegiatan ilmu ini dengan memerintahkan penerjemahan buku-buku asing. Buku-buku diperoleh melalui penerjemahan dan beberapa tambahan diberikan sebagai hadiah oleh khalifah. Koleksi buku yang ditulis karena permintaan dan  juga bahwa dalam pentransimisian naskah dalam setiap salinan dianggap sebagai suatu edisi baru yang terpisah dari buku tersebut. Dalam bukunya Bahya Mustafa’ulyan juga mengatakan bahwa koleksi buku yang terdapat pada perpustakaan Baitul Hikmah bermacam-macam terdiri dari koleksi buku Turos (kitab lama), sejarah, terjemahan buku-buku ilmiah, falaq, kimia, kedokteran, matematika, filsafat dan sastra.[19]

 

 

 

 

D. Penutup

            Khalifah Al-Makmun, pengganti Ar-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta pada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penterjemahan buku-buku Yunani, Al-Makmun menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Al- Makmun banyak mendirikan sekolah dan salah satu karya yang terpenting dalam pembangunan Bait Al-Hikmah.  Baitul hikmah merupakan perpustakaan besar islam yang didirikan pada awal abad IX M oleh khalifah Harun Ar-Rasyid  yang terletak di jantung kota Baghdad. Usaha Ar-Rasyid kemudian diteruskan oleh anaknya Al-Makmun, perpustakaan itu dikenal dengan sebutan  “Darul Ilmi” atau “ Baitul Hikmah” yaitu suatu lembaga yang menyerupai universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan ilmu, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting.  Baitul hikmah merupakan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Adapun pengelolaan Baitul Hikmah itu meliputi gedung bangunan Baitul Hikmah, staf perpustakaan, metode pendidikan, biro penerjemah dan juga koleksi-koleksi buku yang ada di Baitul Hikmah.

 

Daftar Pustaka

Danandjaja, Folkar Indonesia: Ilmu Gosip, dongeng dan lain-lain,  ( Jakarta: Grafiti pers, 1984)

Ali Sodiqin, Dudung Abdurrahman,dkk, Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik hingga Modern, Yogyakarta: LESFI, 2003.

Hamka, Sejarah Umat Islam II, ( Jakarta: Bulan Bintang)

Hepi Andi Basthoni, Sejarah Para Khalifah, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008)

Johanes Pederson, Fajar Intelektualisme: Buku dan Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab (Bandung: Mizan, 1996)

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992)

Nining Sudiar, Pengelolaan Perpustakaan Baitul Hikmah, Volume 11, No. 1 Agustus 2014, ( Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru)

Nursapia Harahap, Penelitian kepustakaan,  Jurnal Iqra’ volume 08 No. 01 Mei 2014, ( IAIN-SU Medan )

Ranup Selaseh. Sejarah Baitul Hikmah- Bait Al-Hikmah. Dalam http://ranup-selaseh.blogspot.com/2013/07/sejarah -baitul-hikmah-bait-al-hikma.html, di akses 17 Mei 2014 pukul: 12:18 wib

Risa Rizania, Bait Al-Hikmah pada masa Dinasti Abbasiyah, (Universitas Indonesia: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, 2012)

Syaikh Muhammad Al- Khudhari, Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2016

Sukmadinata, Metode penelitian Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013)

W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1990)

Yusuf Al-Qardlawi, Distorsi Sejarah Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005



                [1] Yusuf Al-Qardlawi, Distorsi Sejarah Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), hal. 104

                [2] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), hal. 51

                [3] Hepi Andi Basthoni, Sejarah Para Khalifah, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008), hal. 97

                [4] Baitul hikmah didirikan pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid yaitu khalifah kelima Dinasti Abbasiyah yang kemudian disempurnakan oleh putranya khalifah Al-Makmun pada abad ke empat. Baitul Hikmah berfungsi sebagai pusat perpustakaan sekaligus observatory, disitulah para ilmuwan muslim sering berkumpul untuk melakukan kajian-kajian ilmiah. Khalifah Ar-Rasyid yang kemudian diikuti Al-Makmun secara aktif selalu ikut dalam pertemuan-pertemuan itu. Ranup Selaseh. Sejarah Baitul Hikmah- Bait Al-Hikmah. Dalam http://ranup-selaseh.blogspot.com/2013/07/sejarah -baitul-hikmah-bait-al-hikma.html, di akses 17 Mei 2014 pukul: 12:18 wib

                [5] Johanes Pederson, Fajar Intelektualisme: Buku dan Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab (Bandung: Mizan, 1996) hal. 50

                [6] Sukmadinata, Metode penelitian Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 51

                [7] Danandjaja, Folkar Indonesia: Ilmu Gosip, dongeng dan lain-lain,  ( Jakarta: Grafiti pers, 1984) hal. 28

                [8] Nursapia Harahap, Penelitian kepustakaan,  Jurnal Iqra’ volume 08 No. 01 Mei 2014, ( IAIN-SU Medan ) hal. 69

                [9] Syaikh Muhammad Al- Khudhari, Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2016, hal. 313

[10]Ibid,  hal. 314

 

                [11] W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, ( Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1990) hal. 49

                [12] Hamka, Sejarah Umat Islam II, ( Jakarta: Bulan Bintang) hal. 110

                [13] Ali Sodiqin, Dudung Abdurrahman,dkk, Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik hingga Modern, Yogyakarta: LESFI, 2003, Hal. 105

                [14] Nining Sudiar, Pengelolaan Perpustakaan Baitul Hikmah, Volume 11, No. 1 Agustus 2014, ( Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru) hal. 26

                [15] Ibid, ihal. 27

                [16] Risa Rizania, Bait Al-Hikmah pada masa Dinasti Abbasiyah, (Universitas Indonesia: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, 2012), hal. 101.

                [17] Ibid, hal. 103

                [18] Hepi Andi Basthoni, Op.cit, hal. 98

                [19] Nining Sudiar, Op.cit, hal. 29